Ketika Ibu Tiada
Bahkan ada masa ketika kita memilih menjauh, sibuk dengan dunia dan “perjuangan hidup” kita sendiri, dan menganggap perhatian serta kecemasan ibu sebagai sesuatu yang dirasa berlebihan.
Namun ketika ibu telah tiada, rumah akan terasa berbeda, terasa kosong. Ada keheningan yang tidak bisa dijelaskan. Tidak ada lagi suara yang memanggil nama kita. Tidak ada lagi doa yang terdengar di pagi hari. Tidak ada lagi seseorang yang diam-diam mengkhawatirkan kita setiap malam.
Dan yang paling berat… adalah penyesalan.
Banyak anak baru menyadari betapa berharganya seorang ibu setelah kesempatan itu tidak bisa diulang kembali. Berikut 5 (lima) rasa sesal yang paling dirasakan ketika Ibu sudah tiada:
1. Menyesal Karena Terlalu Sibuk
Dulu ibu sering mengajak berbicara, tetapi seringkali kita menjawabnya dengan singkat sambil memainkan ponsel. Ibu ingin ditemani, tetapi kita berkata sibuk. Ibu ingin anaknya pulang lebih cepat, tetapi kita merasa masih punya banyak waktu.
Sekarang, waktu itu benar-benar sudah habis.
Tidak ada lagi kesempatan duduk bersama ibu sambil mendengar cerita-cerita sederhananya. Tidak ada lagi kesempatan mendengar nasihat yang dulu terasa membosankan, tetapi kini justru dirindukan.
2. Menyesal Karena Pernah Membentak dan Menyakiti Hatinya
Ada kata-kata yang mungkin pernah keluar karena emosi:
“Ibu tidak mengerti!”
“Ibu cerewet!”
“Ibu selalu menyalahkan aku!”
Saat itu kita merasa benar. Tetapi setelah ibu pergi, kalimat-kalimat itu terus teringat dan menimbulkan luka di hati sendiri.
Kita baru sadar bahwa seorang ibu mungkin memang tidak sempurna dalam berbicara, tetapi hatinya selalu memikirkan anaknya. Bahkan saat marah sekalipun, sering kali itu lahir karena rasa takut kehilangan dan rasa sayang yang terlalu besar.
3. Menyesal Karena Jarang Mengungkapkan Kasih Sayang
Banyak anak merasa malu memeluk ibu, jarang mengucapkan “terima kasih”, bahkan tidak pernah berkata “aku sayang ibu”.
Padahal seorang ibu mungkin tidak membutuhkan hadiah mahal. Ia hanya ingin merasa dihargai dan dicintai oleh anak-anaknya.
Kini setelah ibu tiada, barulah kita sadar bahwa satu pelukan sederhana mungkin dulu sangat berarti baginya.
4. Menyesal Karena Tidak Memahami Pengorbanannya
Waktu kecil, kita tidak tahu bagaimana ibu menahan lelah demi keluarga. Kita tidak melihat air mata yang disembunyikannya. Kita hanya melihat bahwa ibu tetap kuat dan tidak tahu apa yang dirasakannya. Pasti Ibu pernah sakit, kecewa, atau sedih, namun semuanya tampak baik-baik saja.
Kadang kita hanya melihat kekurangannya:
- ibu terlalu banyak melarang,
- terlalu banyak mengatur,
- terlalu keras dalam berbicara.
Tetapi ketika dewasa, kita mulai mengerti bahwa di balik semua itu ada kasih yang diam-diam menjaga kita sejak kecil.
Mungkin ibu pernah menyakiti hati kita dengan kata-kata. Tidak ada Ibu yang sempurna, tapi juga tidak ada anak yang sempurna. Ibu juga punya kelemahan sebagai manusia. Tetapi jika mengingat masa kecil, pasti ada kasih tersembunyi yang pernah kita rasakan, saat ibu menjaga ketika sakit, menemani belajar, mengorbankan kebutuhannya demi anak, atau diam-diam mendoakan kita tanpa kita tahu.
5. Menyesal Karena Mengira Masih Ada Waktu
Inilah penyesalan terbesar.
Kita sering berpikir:
“Nanti saja membahagiakan ibu.”
“Nanti kalau sudah sukses.”
“Nanti kalau sudah punya waktu.”
Tetapi hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua.
Suatu hari, kursi tempat ibu biasa duduk akan menjadi kosong. Nomor teleponnya tidak lagi bisa dihubungi. Dan kita hanya bisa mengenang semua hal yang belum sempat dilakukan.
Selagi Ibu Masih Ada…
Hari Ibu seharusnya bukan hanya tentang hadiah atau ucapan di media sosial, yang paling penting adalah bagaimana kita menghargai ibu setiap hari.
Selagi ibu masih ada:
- luangkan waktu
- dengarkan ceritanya
- minta maaf dan memeluknya
- ucapkan terima kasih
- dan tunjukkan kasih sayang dengan tulus
Karena ketika ibu telah tiada, yang tersisa bukan hanya kenangan, tapi sekaligus penyesalan. Menyesal akan hal-hal kecil yang dulu kita anggap tidak perlu kita lakukan, tapi ketika Ibu tiada hal itu menjadi sangat mengganggu, mengapa dulu tidak dilakukan.
Menyesal, kenapa ketika Ibu masih ada, kita melakukan hal yang seharusnya tidak kita lakukan, dan setelah Ibu tiada, hal itu tidak bisa dihapuskan.
Menyesal, kenapa tidak memberikan yang terbaik ketika Ibu ada. Saat sekarang tiada, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk melakukan itu.
“Seorang ibu mungkin tidak selalu sempurna, tetapi kasihnya sering menjadi tempat pulang yang paling tulus dalam hidup seorang anak.” Selamat hari Ibu Internasional, kiranya semua Ibu dapat berbahagia dan setiap anak bisa membahagiakan Ibu mereka.